BERITA & ARTIKEL
   

Foto-foto Kongres Internasional Custodia Terrae Sanctae 2012


( Sumber : http://pt.custodia.org/ )

Kursus Alkitab Biblika - Program 2012, Kelas C.
PROGRAM KURSUS ALKITAB MARET - APRIL 2012


Telah dibuka "Toko Fransiskan Corner"

Untuk memberikan pelayanan yang lebih baik, kami membuka toko sebagai Showroom produk-produk yang kami jual. Segera kunjungi kami di Toko baru kami di alamat :
Samadhi Emaus - Jl. Manggarai Selatan 1 No. 31 Rt. 12/Rw.01
Kelurahan Manggarai

The Memorial Hall Betlehem

The Franciscan Foundation for the Holy Land present :
THE MEMORIAL HALL - Tanda Kasih Abadi untuk orang-orang terkasih di Gereja Kelahiran Yesus, Betlehem.


Bantulah kehadiran Gereja dan umat Kristen di Tanah Suci dengan memilih program Emmaus atau Bethania.
Nama Anda akan terukir di pusat hati Gereja Kelahiran Yesus (Nativity Church) di Betlehem. Anda menjadi begitu dekat di situs kelahiran Yesus dan akan didoakan setiap hari oleh para Fransiskan yang sudah lebih dari 700 tahun dipercayakan oleh Gereja untuk menjaga tempat-tempat suci kekristenan kita.
Abadikanlah nama Anda, keluarga dan orang-orang yang Anda kasihi untuk dikenang terus menerus di Gereja yang suci ini.

Kunjungan Natal Di Holy Land

Hari ini, 27 Desember 2011, adalah hari saling kunjung mengucapkan selamat Natal bagi komunitas Kustodia Terra Santa, Convento San Salvatore, Jerusalem. Perayaan Ekaristi komunitas dilaksanakan pada pukul 08.00 dan berakhir pukul 09.00 waktu setempat. Setelah perayaan Ekaristi semua anggota komunitas bersama dengan Pater Kustos Terra Santa, P. Pierbattista Pizzaballa OFM bersiap di ruang tamu Convento San Salvatore menanti kedatangan tamu pertama hari ini dari Patriarkat Gereja Ortodoks Yunani beserta para Imamnya. Kedatangan mereka disambut meriah oleh P. Pierbattista Pizzaballa OFM dan seluruh anggota komunitas Convento San Salvatore. Dalam ucapan selamatnya Patriarkat Gereja Ortodoks Yunani berharap agar kerjasama yang selama ini sudah terjalin baik dengan para Fransiskan akan menjadi semakin baik lagi dalam melayani berbagai macam kebutuhan di Tanah Suci.


Telah dibuka : Kursus Alkitab Biblika - Program 2012, Kelas A.
PROGRAM KURSUS ALKITAB JA
NUARI - FEBRUARI 2012

The Nativity Star Pendant

Saudara sekalian yang saya kasihi dalam Kristus,

Saya mengundang saudara sekalian untuk mengambil bagian dalam penawaran istimewa ini, yang akan menghubungkan Anda dengan saudara-saudara kita di Tanah Suci melalui roh dan doa, ke tempat suci kelahiran Yesus dan membangkitkan harapan serta cahaya spiritual ke dalam hidup Anda. Sebuah cahaya yang akan menerangi hati Anda dan membawa kegembiraan kepada jiwa Anda sepanjang tahun.

The Nativity Star Pendant adalah sebuah medali sakramentali yang unik, diberkati dan diletakkan bersebelahan dengan lokasi tempat Yesus lahir.

Dengan memiliki liontin yang unik ini, Anda akan membantu Comisariat Terrae Sanctae-Indonesia yang turut melestarikan dan membiayai pemeliharaan situs-situs penting di Tanah Suci dan menjaga keberlangsungan hidup umat Kristiani di Timur Tengah.

Semoga semangat solidaritas kita membawa damai, kebahagiaan, kesehatan serta berkat yang melimpah bagi Anda dan keluarga.

Saudaramu dalam Kristus,
Pastor Robert Wowor, OFM
www.fransiskan-corner.org

AVIATOUR

Telah dibuka : AVIATOUR AKITA - ALPINE ROUTE BERSAMA P. ROBBY WOWOR, OFM 10 HARI

AVIATOUR

HARI KE 01 : MINGGU, 15 APRIL = JAKARTA – SINGAPORE

Para peserta berkumpul di Bandara Soekarno-Hatta untuk keberangkatan ke Osaka, Jepang.

HARI KE 02 : SENIN, 16 APRIL = SINGAPORE – OSAKA
Pagi hari, setibanya di Osaka, Anda akan diajak ke Shinsaibashi, pusat Perbelanjaan di Osaka, melewati / melihat Osaka Castle. Kemudian perjalanan ke Kobe, mengunjungi Kobe Harborland, pusat budaya yang menghubungkan kota dan laut serat dibangun di area bekas Stasiun Nasional Cargo Japan railways Minatogawa dan Kobe Motomachi. (MS/MM)

HARI KE 03 : SELASA, 17 APRIL = OSAKA – KYOTO – KANAZAWA
Hari ini Anda akan diajak ke Kyoto, mengunjungi Kiyomizu Temple dan Gujo Hachimangu untuk belajar membuat Food Sample. Kemudian lanjut ke kota Kanazawa. (MP/MS/MM)

HARI KE 04 : RABU, 18 APRIL = SHIRAKAWAGO – TAKAYAMA - KANAZAWA
Hari ini ke Shirakawa-go yang merupakan salah satu World Heritage, sebuah desa yang bersejarah di Jepang. Desa ini hanya terdiri dari 113 rumah tradisional dengan bentuk atap rumah yang miring dan melambangkan tangan orang yang sedang berdoa. Kemudian ke Sannomachi di Takayama. Selanjutnya ke Kanazawa, mengunjungi Kenrokuen, salah satu taman yang terkenal di Jepang dan Kanazawa Castle. (MP/MS/MM)

Foto-foto ziarah beberapa bulan terakhir bersama P. Robby Wowor, OFM.


Surat dari Vatican ditujukan kepada Pastor Robert Wowor Ofm, sebagai komisaris untuk CTS-Indonesia.

Memories of Vietnam-Laos

 

 

First of all, we have a flight from Jakarta to Ho Chi Minh with Singapore Airlines. Soon after we arrived at Ho Chi Minh (old named Saigon), we directly went to domestic airport to Hue (1100 km from Ho Chi Minh) using Vietnam airlines.

The appearance of mother Mary La Vang in 18th century was being a priority of our destination. La Vang is a holy land which of Vietnamese community of the catholic and it has been acknowledged as national shrine in 1950.

This place has become a holy land because the catholic community in Vietnam was being chased, killed, and interrogated by Vietnamese government. Because of that condition, they run and hide in the forest (Banjan tree) which is very humid and many diseases happened such as diarrhoea, malaria, cholera, and etc.

At the present time, they spent their time together to pray with rosary every single day. As a result, there is appearance of Mother Mary with Vietnamese traditional dress and also it has happened several times from 1798 to 1803.

Surat dari Vatican ditujukan kepada Pastor Robert Wowor Ofm, sebagai komisaris untuk CTS-Indonesia.


Pengalaman yang sangat berkesan & tidak bisa dilupakan.

 

 

Satu kata untuk menggambarkan apa yang saya alami dan rasakan pada pendakian ke Gunung Sinai adalah MELELAHKAN. Apalagi untuk orang yang tidak pernah olah raga seperti saya.

Pengalaman naik onta cukup menyenangkan. Tapi waktu mendaki saja. Waktu turun gunung benar seperti yang diinformasikan, sebaiknya jalan kaki. Tapi waktu itu rasanya sudah tidak saggup lagi untuk berjalan. Kaki keduanya seperti mau lepas.

Mendaki anak tangga ( 700 steps ) sendiri juga bagian yang cukup berat. Beberapa kali berhenti untuk ambil nafas dan minum. Tetapi karena melihat para Suster yang sudah jauh lebih tua dari saya masih kuat dan semangat, saya juga jadi ikut semangat. Apalagi tiap kali saya dengar ada suara, “ Ayo, tinggal sedikit lagi ! “. Waktu bisa sampai di puncak, rasanya begitu puas. Apalagi kemudian bisa melihat keindahan matahari terbit. Betapa luar biasanya karya Tuhan. Menuruni anak tangga sekali lagi menjadi hal yang cukup sulit. Lebih sulit daripada mendaki malahan karena suasana yang sudah terang, tampaklah batu – batu dan medan yang menurut saya “ berbahaya “. Berbatu – batu dan licin, menuruni tangga satu per satu agar tidak terpeleset.

Mendaki Dan Menuruni Sinai





Setibanya di puncak Sinai, hatiku menjadi kosong........, lalu perlahan – lahan dialiri rasa aman yang solid dan damai yang dinamis. Dibekali soliditas dan dinamika ini aku menuruni jalan yang tak kalah menantang, dibandingkan dengan jalan mendaki sebelumnya.

Bagiku puncak Sinai adalah terminal untuk Musa pada perjalannya menuju Yahweh. Dengan 10 Perintah Yahweh sebagai penunjuk jalan, Musa merintis jalan kepada Yesus yang telah mengajar aku menyapa Yahweh, Allah Bapa.

Refleksi ke Gunung Sinai

























Saat diberitahu bahwa ada acara naik gunung sinai, saya punya niat nekat, apapun yang terjadi saya harus ikut dan harus sampai atas puncak Sinai.

Dalam perjalanan naik unta perasaan tenang, saat jalan kakipun tidak ada kesulitan, waktu pulangpun saya jalan kaki. Mendaki Gunung Sinai saya rasakan sama dengan sebuah perjalanan hidup, penuh perjuangan dan pasti sampai karena Tuhan menyertai saya.

24 Oktober 2010

Puji Tuhan.......

Sampai juga aku dan suami di puncak Sinai jam 4 pagi waktu St. Catherine. Aku ucap syukur atas anugrah luar biasa yang boleh aku dan suami nikmati, kebesaranMu, kuasaMu Tuhan......dan aku juga berdoa untuk orang – orang yang titip doa dan perlu aku doakan. Rasa luar biasa yang aku rasakan hingga aku menangis. Kupandangi sekeliling puncak Sinai, pengalaman naik Onta yang mengantarku hingga aku sampai di puncak Sinai tempat Musa menerima 10 Perintah Allah.

Di puncak Sinai kupejamkan mata dan kuberdoa.....
Selembar kertas doa yang berupa titik baru aku dapat dari seorang sahabat tour ini, kupandangi......titik ini lalu kuberdoa Bapa Kami dan aku akhiri doaku dengan kata “ ampuni aku ya Tuhan......”

Puji dan syukur bagi Tuhan

Merupakan suatu peristiwa yang sangat membahagiakan dalam hidup saya yang telah  memasuki usia senja ini, bahwa saya boleh ikut berziarah ke Tanah Suci, di mana Tuhan Yesus menjalani masa hidupNya.

Dengan mengalami dan melihat tempat-tempat di mana Tuhan Yesus menjalankan tugas perutusanNya sebagai Juru Selamat, saya semakin yakin dan percaya akan semua yang tertulis di dalam Injil.

Di sana, saya merasa sebagai tamu yang sedang berkunjung ke rumah Maria dan Joseph , di mana Yesus kecil tinggal sampai Ia dewasa. Dan  saya juga merasa seakan-akan saya mendengarkan Sabda Bahagia dari Yesus sendiri .

Refleksi Sinai

“ Naiklah menghadap Aku, ke atas gunung dan tinggallah di sana,
maka Aku akan memberikan kepadamu loh batu,
yakni hukum dan perintah yang telah kutuliskan untuk diajarkan
kepada mereka “ ( Kel 24 : 12)

Pengalaman mendaki Gunung Sinai membawa perasaan haru dan membuat bulu kuduk merinding. Betapa tidak, dalam perjalanan yang terjal bebatuan, aku membayangkan di tempat inilah Allah bertemu dengan Musa. Pengalaman inilah yang membuatku damai : kesunyian, keheningan, terasa sekali di tempat ini. Yang paling berkesan adalah, perasaan sukacita, boleh mengalami pengalaman sebagai “ Musa “ kecil untuk merasakan kehadiran Tuhan.

Selama di puncak gunung aku tidak menanyakan dan membekali dengan segala pengetahuan teologis, namun hanya diam dan merasakan sukacita dan kebahagian ini.  Betapa batinku dikuatkan dan mendapatkan kekuatan baru. Dan aku bergumam “ Inilah loh batu yang Tuhan berikan untukku di puncak Sinai ini : “ SUKACITA BATIN “, karena tinggal di gunung suci ini.

Refleksiku pendakian ke Gunung Sinai

Yang membuatnya terkenal adalah sisi religiusitas gunung ini. Ribuan tahun lalu, saat bani Israel exodus dari Mesir menuju Kanaan, mereka singgah di gunung ini. Tepat di bawah kaki gunung mereka berkemah. Kemudian ke atas puncak gunung inilah Musa mendaki dan bertemu dengan Tuhan, yang kemudian turun membawa dua loh batu berisi 10 Hukum Allah yang terkenal itu.

Perjanjian Sinai bersifat Anugerah sekaligus Misioner. Anugerah karena Allah telah lebih dahulu menyatakan keselamatanNya kepada umatNya. Israel adalah milikNya. Misioner karena Israel dipanggil menjadi imam bagi bangsa – bangsa kafir, karna ini maka saya berniat untuk mendaki Gunung Sinai, untuk merasakan, mengalami sekian ribu tahun yang lalu Musa membawa Bani Israel dan membuat perjanjian di atas Gunung Sinai.

Tepat pukul 02.00 kami naik unta. Jalan berbatu – batu dan tebal, jurang, apalagi setelah siang hari panas menyengat, gunung batu, tak ada rerumputan, kalaupun ada hanya satu dua dapat di hitung dengan jari, rasanya tak ada kehidupan disana. Kami melampau bukit terjal dan tinggi, batu yang tajam sangat melelahkan ketika harus mendaki berjalan kaki. Bersama teman – teman yang lain kami saling membantu, memberi dorongan suport untuk sampai ke puncak Sinai. Ketika sampai di puncak, keletihan seakan – akan hilang lenyap, tinggal kekaguman akan kebesaran Allah......dan rasa syukur yang berlimpah kepada Allah. Ungkapan syukur dan kekaguman ada yang menyanyi, ada yang membisu, terperangah......berdoa....sampai datangnya matahari terbit menyinari batu – batuan dan indahnya seakan – akan adanya kombinasi refleksi dari tiap bebatuan besar terpancang kebesaran alam sebagai karya cipta Ilahi.

“ KEMANAPUN ENGKAU PERGI AKU KAN MENYERTAIMU”
( Sebuah Refleksi )

Perjalanan pendakian ke Gunung Sinai bukan hanya merupakan sebuah refleksi perjalanan singkat selama mengadakan pendakian, tetapi merupakan refleksi pengalaman iman akan penyertaan Tuhan disepanjang perjalanan hidup yang telah kujalani.

Pada hari minggu, tanggal 24 Oktober 2010 dalam perjalanan pendakian ke Gunung Sinai bagiku merupakan sebuah pengalaman iman yang sangat kusyukuri dan takkan pernah kulupakan bagi hidupku sekaligus merupakan bekal yang sangat berharga untuk menyelesaikan peziarahan hidupku sekaligus merupakan bekal yang sangat berharga untuk menyelesaikan peziarahan hidupku. Setelah mempersiapkan berbagai perlengkapan, seperti perlengkapan naik unta, pakaian hangat untuk melawan udara puncak gunung yang sangat dingin, kesehatan yang baik, yang dilengkapi dan diteguhkan oleh niat yang besar dan iman kepada Tuhan bahwa Tuhan sendirilah yang akan menemani dan mengantarku sempai ke puncak Gunung Sinai, maka dengan hati yang siap kuawali perjalanan tersebut.

Ziarek Suster-Suter Ursulin

Ziarek Suster-suter Ursulin bersama Pastor Robby Wowor, OFM pada tanggal 23 Oktober 2010 sampai dengan 30 Oktober 2010.

Anugerah Tersebut kami dapatkan dari Holyland

“ If you have a need, I know Jesus has the answer.
Just reach out and claim it, child you are standing on Holy Ground ”

begitulah penggalan lagu penuh harapan yang dinyayikan oleh John Starnes di dalam lagunya yang berjudul “ On Holy Ground “, yang kami alami dan menjadi berkat nyata pada kunjungan kami ke Holyland.

1Setelah selama empat tahun saya dan Melanie membina rumah tangga, selama periode itu pulalah kami juga belum dikaruniakan seorang anak sebagai berkat dari Tuhan. Seiring dengan berjalannya waktu, kami menjadi khawatir mengingat usia Melanie sudah mulai mencapai angka 30 tahun yang berarti meningkatkan juga faktor resiko kehamilan pada usia diatas 30 tahun.

Berbagai cara kami tempuh, mulai dari mengikuti pengobatan herbal, konsultasi pada orang yang mempunyai kelebihan spriritual, mengikuti program fertilisasi, sampai kepada mengikuti persiapan program inseminasi buatan. Tidak sedikit pengorbanan finansial dan tenaga yang kami keluarkan. Pada dasarnya dokter sudah memberikan rekomendasi bahwa pada situasi yang kami alami, kehamilan sulit bisa terjadi.

Rupanya kekhawatiran dan kegelisahan kami dirasakan juga oleh orang tua kami. Selama bulan November 2009 [ bulan Bunda Maria ], kedua orang tua kami setiap malam berdoa Rosario pada Bunda Maria. Pada saat setelah doa rosario Ibu saya mendapatkan jawaban dari Tuhan Yesus, “ Pergilah anak – anak mu ke Yerusalem dan Aku akan memberkati anak – anak mu disana ”.

Mendapatkan jawaban dari Tuhan, ibu saya lalu berbicara pada saya mengenai perintah dari Tuhan tersebut. Kami sempat bingung juga mengingat tidak ada rencana untuk berangkat ke Yerusalem dan semua dokumen belum siap. Passport kami mati dan kami harus pergi ke Bandung untuk mengurusnya, juga dokumen – dokumen yang dibutuhkan untuk pengurusan passport tersebut belum disiapkan.

In Memoriam - Pater Benyamin Benedictus Tentua OFM

Anda yang pernah menginap atau bekerja di Rumah Sakit St. Carolus Jakarta dari kurun waktu 1982 – 2006 tentu tidak asing dengan Pater Benyamin Benedictus Tentua OFM. Dia lebih akrab dipanggil Pater Ben. Setiap hari, ia mengunjungi dan menghibur pasien-pasien dengan caranya yang khas. Tiap hari ia berkeliling dari satu unit ke unit yang lain dengan membawa pianika atau harmonika. Tak ketinggalan boneka-boneka lucu juga menemaninya. Tanpa ragu ia juga mendendangkan lagu Lisoi-Lisoi diiringi goyang badan yang membuat pasien tersenyum gembira, membuat mereka yang tidak mau makan menjadi lahap, mereka yang mau menjalani operasi menjadi lebih siap.

Pater Ben Tentua lahir di Surabaya pada 17 Agustus 1928 dari keluarga Bp. J. Stephanus Tentua dan Ibu J. Anna Soselisa. Pada usia 7 tahun, Ia menerima sakramen babtis tepatnya pada 22 Desember 1935. Masuk novisiat Fransiskan (OFM) di Biara Cicurug pada 18 Maret 1951. Secara definitive Pater Ben menggabungkan dirinya ke dalam Persaudaraan Fransiskan pada 19 Maret 1955, yakni ketika ia mengikrarkan profesi kekal di Cicurug. Setelah menerima tahbisan imamat di Cicurug pada 6 Januari 1958, Pater Ben diutus untuk belajar Teologi Dogmatik di Roma.

   
 
PRODUK TERBARU
   
     
RENUNGAN HARIAN
   
     
SPONSOR KAMI
 
 
     
     
 
   
   
     
       
  276 Copyright © 2010 www.christojati.com